29 March 2007

Palembang Tempo Doeloe #4 (1935)

Jalan Tengkuruk

Jalan Dempo

Jalan Segaran

Sungai Sekanak

Kantor Pos (Depan Masjid Agung)

Benteng (sekarang BKB)

Empek-Empek

Macam-macam aja cara menjual empek-empek di palembang, selain sepeda, jinjing, gerobak dan lain-lain sekarang sudah ada juga yang jual pakai motor seperti di atas, ini saya ambil di sisi barat pasar 16 Ilir Palembang

28 March 2007

Rumah Bari



Rumah ini terletak di jl. Temon, sayangnya rumah ini tidak cukup perawatannya pada hal letaknya di pusat kota dan masih asli sekali

Kampoeng Palembang



Sebuah Kampung yang bernama Kampoeng Palembang yang terletak di Bukit Besar arah Soekarno Hatta.

Rumah Bari



Rumah tradisional Palembang ini terletak di jl. Demang Lebar Daun, pernah dikunjungi Dorce untuk acara jalan-jalan di Trans TV

27 March 2007

Kondangan (lagi)



sisipan di acara kondangan adalah tampilnya orkes melayu Lancang Kuning

Kondangan




Ini tradisi Palembang, jika kerabatnya melaksanakan acara resepsi pernikahan, kita pergi untuk hadir dengan istilah kondangan (ke Undangan), saya dan istri hadir di acara yang diadakan di Bungaran IV, kelurahan 8 Ulu pada 25 Maret 2007. Antri makan siangnya pun membludak hingga kuputuskan untuk tidak ikut makan siang, kebetulan di sudut ruangan ada tersedia makanan khas Palembang Empek-empek dan celimpungan, sayangnya cuko nya cepat sekali habis hingga bagian konsumsi lambat sekali mencari persediaan cuka, nah ternyata Empek-empek di tambah kuah celimpungan malah lebih enak sempat menghabiskan 8 abis enak tidak lama kemudian datanglah cuko ternya tetap enak mau tau berapa yang aku makan! berapa hayo...

24 March 2007

Palembang dalam Slide

Palembang Tempo Doeloe #4





Wajah Palembang Awal tahun 70-an

Kisah Lain di bawah Ampera




Bentuk kesenangan masyarakat terhadap pembenahan sekitar ampera yang dulu tempat ini menjadi sarang copet, kotor, bau. Lihat 6 pasang kekasih menunggu tenggelamnya matahari.

22 March 2007

Kue Delapan Jam


Makanan khas Palembang yang pembuatannya membutuhkan waktu delapan jam ini khusus disajikan pada saat-saat istimewa. Dalam tradisi masyarakat Palembang, suatu kehormatan jika disuguhi kue delapan jam. Hidangan kue yang rasanya manis ini mengungkapkan penghormatan orang Palembang kepada kerabat dan tamu, terlebih di saat silaturahmi seperti Lebaran.
Sesuai dengan namanya, keistimewaan kue delapan jam terletak pada proses pembuatannya yang membutuhkan waktu delapan jam. Resep pembuatannya merupakan resep tradisional yang diwariskan turun-temurun. Itulah yang membuat kue ini terus bertahan sampai sekarang. "Semua orang asli Palembang tahu bagaimana membuat kue delapan jam. Tetapi, untuk alasan praktis, sebagian orang memilih untuk memesan saja," tutur Ratminah, pembuat kue tradisional di Palembang.
Makanan sejenis kue basah ini dibuat dengan bahan dasar telur bebek, susu kental manis, susu bubuk putih, mentega, dan gula. Bahan-bahan pembuat kue itu memang tergolong mahal. Telur bebek, misalnya, harganya di Palembang saat ini mencapai Rp 1.500 per butir. Sekalipun proses pembuatannya memakan waktu lama, cara membuatnya sederhana. Untuk setiap loyang kue delapan jam, disiapkan telur bebek 20 butir, mentega 2 ons, gula 8 ons, susu kental manis 1 kaleng, dan susu bubuk putih dengan takaran 2 sendok makan.
Seluruh bahan itu dicampur dan dikocok sampai rata tanpa perlu mengembang. Bahan adonan yang telah bercampur dicetak ke dalam loyang dan dikukus selama delapan jam. Jika pengukusan kurang dari delapan jam, kue mudah hancur karena adonan belum kenyal dan menyatu.
Dalam kebiasaan orang Palembang, menunggu pengukusan kue selama delapan jam bukanlah hal yang merepotkan. Waktu luang itu bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Kue delapan jam tidak dibuat setiap hari. Kue istimewa ini hanya disajikan saat perayaan Lebaran dan perkawinan. Pada hari Lebaran, kue ini biasa dihidangkan dengan makanan khas Palembang lainnya, seperti pempek, dan tekwan.
Menjelang dan selama Lebaran, kue delapan jam banyak dijual di pasar-pasar. Pembeli juga bisa langsung memesan dari para pembuatnya. Mengingat bahannya yang relatif mahal, harga kue itu berkisar Rp 70.000 sampai Rp 100.000 per loyang, tergantung dari bahan yang dipakai. Daya tahan kue delapan jam paling lama satu minggu jika disimpan di luar lemari pendingin atau satu bulan jika disimpan di lemari pendingin.
Selain kue delapan jam, kue khas lainnya yang juga menjadi kebanggaan warga Palembang adalah maksuba, engkang ketan, dan bolu lapis. Semuanya memiliki cita rasa manis yang melekat.

Bioskop

SAGA

Garuda

Mustika

Rosida

Haha.... ini bioskop yang dulu sangat populer di Palembang antara lain Garuda, Saga, Mustika dan Rosida. Selain itu masih ada lagi bioskop yang sekarang tidak difungsikan lagi sebagai bioskop seumpama Odeon, Apolo, Dewi, Makmur, Sriwijaya, Internasioal, Mawar dan lain-lain yang sekarang masih saya cari keberadaan bioskop-bioskop itu.
Sekarang yang ada adalah IP 21, Cineplek 21, PIM 21 itupun sudah tidak terlalu laku lagi, kalah sama TV, CD, DVD. (ada komentar??)

Masjid Agung (sesi Palembang Doeloe #2)

1930

1930

1930


1915

1880

1893

Tahun yang tercantum di bawah gambar, dibuat berdasarkan data yang di terima

21 March 2007

Nasi Goreng GOR



Sajian Khas Jika anda berkunjung sekirat Gedung Olah Raga Sport Hall Palembang, disini banyak dijual beraneka ragam nasi goreng dan makanan khas lainnya, pasti asyik kalau makan bersama pasangan disini.

Palembang Doeloe #1

kantor Walikota, lihat sungai tengkuruk di depan kantor ini, sekarang sudah tidak ada


Simpang 26 Ilir

bangunan di sebelah kiri itu sudah tidak ada lagi sejak beberapa tahun lalu, sekarang sudah menjadi taman dan menjadi tempat bermain bola kaki anak-anak di sekitar ini